Kamis, 23 September 2010

Pengertian Afektif

Afektif menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah berkenaan dengan rasa takut atau cinta, mempengaruhi keadaan, perasaan dan emosi, mempunyai gaya atau makna yang menunjukkan perasaan.

Seseorang individu dalam merespon sesuatu diarahkan oleh penalaran dan pertimbangan tetapi pada saat tertentu dorongan emosional banyak campur tangan dan mempengaruhi pemikiran-pemikiran dan tingkah lakunya.

Perbuatan atau perilaku yang disertai perasaan tertentu disebut warna afektif yang kadang-kadang kuat, lemah atau tidak jelas. Pengaruh dari warna afektif tersebut akan berakibat perasaan menjadi lebih mendalam. Perasaan ini di sebut emosi (Sarlito, 1982:59).

Emosi dan perasaan adalah dua hal yang berbeda, namun tidak tegas. Keduanya merupakan suatu gejala emosional yang secara kuantitatif berkelanjutan. Namun tidak jelas batasnya. Menurut Crow dan Cra (1958), pengertian emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentng keadaan mental dan fisik dan berwujud tingkah laku yang tampak. Emosi adalah warna afektif yang ditandai oleh perubahan-perubahan fisik, antara lain :

1) Reaksi elektris pada kulit : meningkat bila terpesona

2) Peredaran darah : bertambah cepat bila terkejut

3) Denyut jantung : bertambah cepat kalau kecewa

4) Pernapasan : Bernapas panjang kalau kecewa

5) Pupil mata : membesar kalau marah

6) Liur : mengering kalau takut dan tegang

7) Bulu roma : berdiri kalau takut

8) Pencernaan : buang-buang air kalau tegang

9) Otot : ketegangan dan ketakutan menyebabkan otot menegang atau bergetar

10) Komposisi darah : kompisis darah akan ikut berubah karena emosional yang menyebabkan kelenjar-kelenjar lebih aktif.

II. Pola perkembangan afektif pada remaja

Erik. H. Erikson, mengemukakan bahwa perkembangan manusia adalah sintesis dari tugas-tugas perkembangan dan tugas-tugas sosial. Adapun pola perkembangan afektif pada remaja adalah :

a) Industry vs Inferiority/Produktivitas (6-11 tahun)

Anak mulai berpikir deduktif, belajar dan bermain menurut peraturan yang ada. Anak bermain menurut peraturan yang ada. Anak didorong untuk membuat, melakukan dan mengerjakan dengan dengan benda-benda yang praktis dan mengerjakannya sampai selesai sehingga menghasilkan sesuatu.

Pada usia sekolah dasar ini dunia anak bukan ganya lingkungan rumah saja melainkan mencakup lembaga-lembaga lainnya yang mempunyai peranan yang penting dalam perkembangan individu. Pengalaman-pengalaman sekolah mempengaruhi industry dan inferiority anak

b) Indentity vs Role Confusion/Identitas ( 12-18 tahun)

Pada fase ini anak menuju perkembangan fisik dan mental. Memiliki perasaan-perasaan dan keinginan-keinginan baru sebagai akibat perubahan-perubahan tubuhnya. Ia mulai dapat berpikir tentang pikiran orang lain, ia berpikir pula apa yang dipikirkan oleh orang lain tentang dirinya. Ia mulai mengerti tentang keluarga ideal, agama dan masyarakat. Pada masa ini remaja harus dapat mengintegrasikan apa yang telah dialami dan dipelajarinya tentang dirinya. Misalnya, sebagai anak, pelajar, anggota osis dan sebagainya menjadi satu kesatuan sehingga menunjukkan kontinuitas dengan masa lalu dan sikap menghadap masa datang.

c) Intimacy vs Isolation/Keakraban (19- 25 tahun)

Yang dimaksud intimacy oleh Erikson selain hubungan suami istri adalah juga kemampuan untuk berbagai rasa dan perhatian pada orang lain. Jika intimacy tidak terdapat diantara sesama teman atau suami istri, menurut Erikson, akan terdapat apa yang disebut isolation, yakni kesendirian tanpa adanya orang lain untuk berbagi rasa dan saling memperhatikan.

III. Ciri Emosi pada masa remaja awal

Secara tradisonal, masa remaja dianggap sebahai periode, “badai dan tekanan”, suatu masa dimana ketegangan emosi meninggu sebagai akibat dariperubahan fisik dan kelenjar.

Meskipun emosi remaja seringkali sangat kuat, tidak terkendali dan tampaknya irasional, tetapi pada umumnya dari tahun ke tahun terjadi perbaikan emosional

Pola emosi pada masa remaja antara lain adalah rasa takut, rasa takut akan terkucil, terisolir dari kelompknya. Hal yang demikian itu menyebabkan remaja sangat intim dan bersikap perasaan terikat dengan teman sepergaulannya. Perasaan konformitas erat hubungannya dengan ‘sumbangan” yang diterima remaja dari sepergaulannya, sehingga ia merasa dibutuhkan, merasa berharga dalam situasi pergaulan. Selain itu, emosi lain yang sangat menonjol pada masa remaja adalah rasa sedih. Remaja sangat peka terhadap jekena-ejekan yng dilontarkan kepada dirinya. Kesedihan yang sangat akan muncul, jika jekan tersebut datang dari teman sebaya, terutama yang berlainan jenis. Sebaliknya, perasaan gembira biasanya akan nampak manakala si remaja mendapat pujian, terutama pujian terhadap diri atu hasil usahanya.

Bentuk emosi yang sering nampak dalam amsa remaja awal antara lain adalah marah, malu, takut, cemas, cemburu, iri hati, sedih, gembira, kasih sayang dan ingin tahu. Dalam hal emosi yang negative, umumnya remaja belum dapat mengontrolnya dengan baik, sehingga remaja dalam bertingkah lakunya sangat dikuasai oleh emosinya. ( Mapiare, Psikologi Remaja, 1982: 58 )

IV. Ciri Emosi pada masa remaja akhir

Disepakati oleh para ahli bahwa sikap remaja akhir boleh dikatakan relatif stabil. Hal ini berarti bahwa remaja senang atau tidak senang, suka atau tidak suka terhadap sesuatu objek tertentu, didasarkan oleh hasil pemikirannya sendiri. Walaupun dalam banyak hal remaja sering masih digoyahkan pendiriannya oleh orangtua mereka yang mungkin disebabkan oleh masih adanya kebergantungan ekonomi. Secara lebih umum, dapat dikatakan bahwa pengaruh-pengaruh atau propaganda orang lain yang berusaha mengarahkan atau mengubah sikap pandangannya yang diyakini benar, akan dinilainya berdasarkan ukuran baik atau buruk, benar atau salah. Pertentangan-pertentangan pendapat dalam hal-hal tertentu dihadapinya dengan sikap tenang, sehingga membuka adanya konsesus.

Kehidupan perasaan remaja akhir juga umumnya telah tenang. Namun ini tidaklah berarti menutup kemungkinan adanya bentrok dengan orang lain. Bentrokan atau pertentangan pendapat dengan orang lain yang kadang-kadang terjadi, dihadapinya dengan perasaan yang lebih teratur dan dibatasi oleh norma-norma orang dewasa, terutama orang dewasa yang diidentifikasikannya.

Satu diantara sikap yang kuat dalam masa remaja akhir terutama parohan awal masa ini adalah tertutup terhadap orang dewasa khususnya terhadap pemecahan persoalan-persoalannya sendiri. Biasanya remaja terbuka terhadap kelompok-kelompok teman sebaya. Dalam kelompok-kelompk akrab itulah remja berdiskusi sampai menghabiskan waktu berjam-jam.

V. Kematangan Emosi pada masa Remaja

Anak laki-laki dan perempuan dikatakan sudah mencapai kematangan emosi bila apada akhir masa remaja ridak “meledakan” emosinya dihadapan orang lain melainkan menunggu saat dan tempat yang lebih tepat untuk mengungkapkan emosinya dengan cara-cara yang lebih dapat diterima. Petunjuk kematangan emosi yang lain adalah bahwa individu menilai situasi secara kritis terlebih dulu sebelum bereaksi secara emosional, tdak lagi beraksi tanpa berpikir sebelumnya seperti anak-anak atau orang yang tidak matang. Dengan demikian, remaja mengabaikan banyak rangsangan yang tadinya dapat menimbulkan ledakan emosi. Akhirnya, remaja yang emosinya matang memberikan reaksi emosional yang stabil, tidak berubah-ubah dari satu emosi atau suasana hati ke suasana hati lainnya, seperti dalam periode sebelumnya.

VI. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi

1. Perkembangan emosi anak tergantung pada factor kematangan dan faktor belajar ( Hurlock, 1996:266 )

2. Kematangan belajar terjalin erat satu sama lain dalam mempengaruhi perkembangan emosi.

3. Perkembngan intelektual menghasilkan kemampuan untuk memahami makna yang belum dimengerti, memerhatikan satu rangsangan dalam jangka waktu yang lebih lama dan berkurangnya peran kelnjar drenalin yang sebelumnya sangat berperan sebelum umur 5 tahun.

4. Kegiatan belajar yang menunjang perkembanagn emosi anak antara lain adalah :

a. Belajar dengan coba-coba

· Anak belajar coba-coba dengan mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang membrikan pemuasan, dan menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan pemuasan.

· Cara belajar ini lebih diunakan pada waktu masa kanak-kanak dibandingkan dengan sesudahnya, tetapi sepanjang perkembangan tidak ditinggalkan sama sekali.

b. Belajar dengan cara meniru

· Mengambil hal-hal yang membangkitkan emosi orang lain, anak-anak bereaksi dengan emosi metode ekspresi yang sama dengan orang yang diamati.

· Contohnya : anak yang suka membuat rebut menjadi marah jika ditegur guru

c. Belajar dengan cara mempersamakan diri

· Anak menirukan reaksi emosional orang lain yang tergugah dari rangsangan yang sama dengan rangsangan yang telah membangkitkan emosi yang ditiru.

· Disini anak banyak menirukan orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat.

d. Belajar melalui pengkondisian

· Pda mulanya gagal memancing reaksi emosional, kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi.

· Pengkondisian terjadi dengan mudah dan cepat pada tahun-tahun awal kehidupan karena anak kecil kurang mampu menalar, kurang pengalaman untuk menilai sesuatu secara kritis dan kurang mengenal betapa tidak rasionalnya rekasi mereka.

· Setelah melewati masa kanak-kanak penggunaan metode pengkondisian semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan tidak suka.

e. Pelatihan atau belajar dibawah bimbingan dan pengawasan terbatas pada aspek reaksi

· Anak diajarkan cara bereaksi yang dapat diterima jika suatu emosi terangsang, yaitu dengan pelatihan, anak dirangsang untuk membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak bereaksi secara emosional terhadap rangsangan yang membangkitkan emosi yang tidak menyenangkan.

B. Perkembangan Nilai, Moral dan Sikap

Nilai-nilai kehidupan adalah norma-norma yang berlaku dalam masyarakat atau prinsip hidup yang menjadi pegangan seseorang dalam hidupnya, baik sebagai pribadi maupun sebagai warga Negara.

Sedangkan moral adalah ajaran tentang baik, buruk perbuatan dan kelakuan, akhlak dan sebagainya. Sedangkan sikap adalah kesediaan bereaksi individu terhadap sesuatu hal.

Keterkaitan antara lain, moral dan sikap tampak dalam pengamalan nilai-nilai. Pengenalan, penghayatan terhadap nilai-nilai, berdasarkan moral yang dimiliki akan terbentuk sikap dan di wujudkan dalam tingkah laku yang mencerminkan nilai-nilai yang dianut.

Tingkatan perkembangan pasca-konvensional harus dicapai oleh remaja. Menjadi remaja berarti mengerti nilai-nilai, yang berarti tidak hanya memperoleh pengertian saja tetapi juga dapat menjalankan / mengamalkannya. Orangtua dan orang penting lain di sekitar remaja mempengaruhi perkembangan nilai moral dan sikap. Menurut Kohlberg, disamping interaksi sosial, faktor anak ikut berperan dalam perkembangan moral. Terjadi perbedaan individual dalam perkembangan nilai, moral dan sikap sesuai dengan umur, factor kebudayaan dan tingkat pemahamannya.

Upaya upaya yang dapat dilakukan dalam rangka pengembangan nilai, moral dan sikap remaja adalah menciptakan komunikasi di samping member infor dan remaja diberi kesempatan untuk berprestasi untuk aspek moral, serta menciptakan sistem lingkungan yang serasi/konsusif.